Sistem BNI
BNI sebagai perusahaan perseroan pada bidang perbankan mempunyai bidang usaha dalam bisnis yang meliputi bisnis korporasi, bisnis konsumer, bisnis komersial, bisnis treasuri dan internasional dan bisnis dengan anak perusahaannya.
BNI dalam pelayanannya memberikan layanan berupa ATM (Asynchrounous Transfer Mode) yang tersebar diseluruh Indonesia. Lokasi ATM BNI tercatat sampai dengan akhir tahun 2004 diseluruh Indonesia ada sebanyak kurang lebih 1481 lokasi. Lokasi di kota-kota besar maupun kota kecil.
Kualitas layanan yang ditawarkan oleh BNI melalui ATM mereflesikan kinerja, ketersediaan dan kehandalannya. Kualitas ini dipengaruhi oleh sejumlah factor seperti alokasi proses ke proses pada sistem, distribusi sumber daya pada system, jaringan dan perangkat keras sistem dan kemampuan dapat diadaptasi dari sistem.
Sistem ATM BNI
Sistem ATM BNI sama dengan sistem ATM perbankan lainnya, dimana ATM sebagai client sedangkan sebagai servernya adalah mainframe yang menjalankan database account nasabah. Hal ini dapat digambarkan seperti berikut ini :
Sistem jaringan ATM ini tidak terhubung langsung ke database nasabah, tetapi terhubung ke monitor teleprocessing. Monitor teleprocessing merupakan system middleware yang mengatur komunikasi dengan client jarak jauh(remote) dan menserikan transaksi client untuk diproses oleh database. Menggunakan transaksi serial mengandung arti bahwa system dapat pulih dari kesalahan tanpa merusak data system.
Struktur Sistem Informasi ATM BNI
Sistem informasi ATM pada BNI didukung oleh system keamanan, system akuntansi cabang local, system counter cabang, system pemeliharaan, usage database dan account database dapat digambarkan dalam struktur diagram DFD(Data Flow Diagram) dengan diagram context seperti berikut ini :
menggambarkan setiap ATM BNI terhubung ke satu database account database, sistem akutansi cabang local, sistem keamanan dan sistem pemeliharaan. Sistem ini terhubung ke usage databse yang memantau bagaimana jaringan ATM BNI digunakan dan ke sistem counter cabang local. Sistem counter ini memberikan layanan seperti backup dan pencetakan.
Kelemahan pada penggunaan sistem ATM BNI
Penggunaan system ATM pada bank BNI ini terdapat beberapa kelemahan yang berkaitan dengan:
a. Kompleksitas
Banyaknya layanan yang menjadikan suatu arus lalu lintas layanan yang berdampak pada kinerja system. Kinerja system tidak hanya tergantung pada kecepatan eksekusi satu prosesor saja, tetapi pada bandwith jaringan dan kecepatan berbagai prosesor pada jaringan tersebut. Seperti layanan transfer uang pada ATM BNI antar nasabah dalam satu bank atau antar bank ini tidak dapat berjalan dalam waktu yang cepat pada lokasi-lokasi tertentu berkaitan dengan kecepatan berbagai prosesor pada jaringan tersebut.
b. Keamanan
Sistem ATM BNI ini dapat diakses oleh nasabah dengan diberikannya kartu ATM sehingga nasabah dapat memanfaatkan layanan yang diberikan BNI lewat ATM. Untuk memasuki system ATM BNI maka kartu ATM dilengkapi kode PIN(Personal Identification Number) atau nomor identifikasi pribadi. Kode PIN ATM BNI terdapat hanya 4 angka ini memungkinkan mudah tembus oleh orang tidak bertanggung jawab.
c. Kemampuan untuk dapat dikendalikan
Berbagai komputer yang terdapat pada suatu system bias terdiri dari tipe-tipe yang berbeda dan mungkin menjalankan system-sistem operasi yang berbeda pula. Kesalahan pada satu mesin bias merambat ke mesin lain dengan konsekuensi yang tidak diharapkan, seperti ini dapat terjadi pada saat pengambilan uang melalui ATM BNI ternyata ada gangguan pada komputer dikantor pusat melalui ATM BNI ternyata ada gangguan pada komputer dikantor pusat sehingga uang tidak dapat diambil pada waktu itu. Ini berarti diperlukan lebih banyak usaha untuk mengendalikan dan memelihara operasi sistem.
Sumber : Syarif Hidayatullah dan Ina Agustina. 2009.Aplikasi Three-Tier Client Server Pada Sistem ATM Bank BNI.Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 Yogyakarta.






0 comment:
Posting Komentar